Sunday, February 26, 2012

Fakta Di Balik Mayat Berjalan


Konon disebuah gua di desa Sillanang sedjak tahun 1905 telah ditemukan majat manusia jang utuh, tidak busuk sampai sekarang. Majat itu tidak dibalsem seperti jang dilakukan orang-orang Mesir Purba bahkan tidak diberi ramuan apapun. Tapi bisa tetap utuh.

Menurut pendapat Tampubolon, kemungkinan ada sematjam zat digua itu jang chasiatnja bisa mengawetkan majat manusia. Kalau sadja ada ahli geologi dan kimia jang mau membuang waktu menjelidiki tempat itu, agaknja teka teki gua Sillanang dapat dipetjahkan.

Di samping majat jang anti husuk, ada pula majat manusia jang bisa berdjalan diatas kedua kakinja, bagaikan orang hidup jang tidak kurang suatu apa. Kalau mau ditjari djuga perbedaannja, ada, tapi tidak begitu kentara. Konon menurut Tampubolon, sang majat berdjalan kaku dan agak tersentak-sentak.


Dan dalam perdjalanan itu ia tidak bisa sendirian, harus ditemani oleh satu orang hidup jang mengawalnja, sampai ketudjuan achir jaitu rumahnja sendiri. Mengapa harus demikian?

Tjeritanja begini. Orang-orang Toradja biasa mendjeladjah daerahnja jang bergunung-gunung dan banjak tjeruk itu hanja dengan berdjalan kaki. Dari zaman purba sampai sekarang tetap begitu. Mereka tidak mengenal pedati, delman, gerobak atau jang sematjamnja. Nah dalam perdjalanan jang berat itu kemungkinan djatuh sakit dan mati selalu ada.

Supaja majat tidak sampai ditinggal didaerah jang tidak dikenal (orang Toradja menghormati roh setiap orang jang meninggal) dan djug supaja ia tidak menjusahkan manusia lainnja (akan sangat tidak mungkin menggotong terus-menerus djenazah sepandjang perdjalanan jang makan waktu berhari-hari), maka dengan satu ilmu gaib, mungkin sedjenis hipnotisme menurut istilah saman sekarang, majat diharuskan pulang berdjalan kaki dan baru berhenti bila ia sudah meletakkan badannja didalam rumahnja sendiri.

Kini, tiba saatnya keluarga Tumonglo menjalani ritual inti dari Ma`nene. Di bawah kuburan tebing batu Tunuan, keluarga ini berkumpul menunggu peti jenazah nenek Biu--leluhur keluarga Tumonglo yang meninggal dunia setahun lalu--diturunkan. Tak jauh dari tebing, kaum lelaki saling bergandengan tangan membentuk lingkaran sambil melantunkan Ma`badong. Sebuah gerak dan lagu yang melambangkan ratapan kesedihan mengenang jasa mendiang yang telah wafat sekaligus memberi semangat pada keluarga almarhum.



Bersamaan dengan itu, peti jenazah pun mulai diturunkan dari lubang batu secara perlahan-lahan. Peti kusam berisi jasad nenek Biu. Keluarga Tumonglo mempercayai bahwa ada kehidupan kekal setelah kematian. Sejatinya kematian bukanlah akhir dari segala risalah kehidupan. Karena itu, menjadi kewajiban bagi setiap keluarga untuk mengenang dan merawat jasad leluhurnya meski sudah meninggal dunia beberapa tahun lalu. Dalam ritual ini, jasad orang mati dikeluarkan kembali dari tempatnya. Kemudian, mayat tersebut dibungkus ulang dengan lembaran kain baru oleh masing-masing anak cucunya. 

Acara dilanjutkan dengan membuka dua peti yang berisi jasad leluhur. Mayat yang sudah meninggal setahun yang lalu itu dibungkus ulang dengan kain baru. Perlakuan itu diyakini atas rasa hormat mereka pada leluhur semasa hidup. Mereka yakin arwah leluhur masih ada untuk memberi kebaikan.

Selain di liputan6.com, saya menemukan tulisan lain mengenai proses penggantian pakaian jenazah yang ditulis oleh Eko Rusdianto diekorusdianto.blogspot.com. Eko bahkan melampirkan dua foto yang menunjukkan prosesi yang sangat mirip dengan yang tergambar di foto kita.


Eko menceritakan mengenai mayat yang sedang dibersihkan:
Namanya Bapak Lambaa, meninggal usia 70 tahun. Tingginya sekitar 165 cm. Keluarganya menggulung celana dengan perlahan hingga lutut. Yang lain ikut mendandani Ambe Lambaa. Pakaian usang yang dikenakannya bertahun-tahun sekarang ikut diganti. Kaos kaki, jas, celana luar dan dalam. Hingga rambut harus disisir.

Kini bapak Lambaa kembali menggunakan pakaian bersih. Perlahan-lahan ditidurkan kembali pada rumah petinya.


Kalo yang ada di foto itu bukan prosesi menjalankan mayat tetapi itu prosesi pemindahan mayat dari kuburan lama ke kuburan baru yang disertai penggantian baju dan penggantian peti yang terbuat dari kain,. memang mayat berjalan susah di terima akal tapi inilah yang terjadi di tana Toraja, kalo dalam ilmu jawa di sebut "Rogo sukmo" jadi mayat berjalan ini di gerakkan oleh seorang "pawang" yang memindahkan rohnya kepada si mayat
Tradisi ini memang sudah jarang di temukan didaerah tana Toraja(rantepao-makale) tetapi kalo bergeser sedikit ke arah barat(toraja barat-mamasa) kemungkinan besar anda masih bisa menemukannya



Mengapa ada kubur lama dan baru?
Zaman dahulu, kebanyakan orang mati di Toraja dikuburkan di dalam liang2 batu, baik goa alami, maupun yg dibuat khusus. setelah berkembang, kebanyakan keluarga membangun kubur baru yang bentuknya lebih "bagus". caranya: membuat lubang di tanah dengan ukuran yg cukup besar dan disemen. di atasnya dibuat semacam rumah kecil yang menutupi dan melindungi lubang tadi. tetapi lubang tadi tidak pernah ditutup permanen dan selalu bisa diakses. tujuannya ada 2: untuk berziarah dan untuk memasukkan jenazah (dalam peti) anggota keluarga jika nanti meninggal. untuk itu ada istilah "banua tang merambu" (harafiah berarti "rumah tak berasap", maksudnya rumah tanpa dapur).

Dan kebiasaan yang lain adalah tidak langsung menguburkan orang yang meninggal. mungkin ini memang agak asing bagi sebagian besar penduduk Indonesia, apalagi yg beragama Islam (no SARA). 
Orang Toraja biasanya "menyimpan" jenazah dalam waktu lama sebelum diadakan upacara pemakaman. tujuannya tentu sambil mengumpulkan biaya upacara, juga untuk menunggu keluarga lain yg berada di tempat lain yg jauh. selain itu, mungkin juga ada pertimbangan lain dari keluarga. keluarga saya dulu pernah ada yg bahkan sampai 10 tahun baru diupacarakan 
dan semua orang meninggal langsung dimasukkan ke dalam peti sesudah jenazahnya dimandikan.



Sumber: http://www.kaskus.us/showthread.php?t=7337321

Reactions:

14 comments:

Subhanalloh...baru tau saya dan fotonya menakjubkan...ada foto2 yang lainya ga...jadi penasaran nih...nice info...salam sehat

@Pasarherbal: iya kawan, saya juga baru tahu lho.. beres sob, nanti saya googling dulu :D
@hzndi: tambah pengetahuan kawan :D

aneh bin ajaib, poto pertamanya itu lho, benar2 kayak manusia hidup. rambutny terurai... xixixixxi... serem tapi lucu juga. but, ini adalah sebuah pengetahuan dari negeri sendiri. ternyata di Indonesia pun telah memiliki teknologi canggih n tidak kalah saing dengan di Mesir itu.

ane pun penasaran, kira2 apa y ramuanny. kok bisa begitu? percaya atow tidak percaya... bukti di sini sudah cukup jelas.

Sumpaah jadi merinding liatt tu gambarr, kebayang kalo malem-malem hihihiiiiii takudddddddddddddddddd

@Jejak Puisi: betul kawan.. gak usah jauh-jauh cari mumi di mesir, lha wong di negeri sendiri saja udah ada .. jalan sendiri lagi!!
@Si 7og4nK: haha.. ya jgn diliat gambarnya sob.. :D

waw, kaya mumi dong itu mba ! hehehehe

@Yosse: iya mirip mumi, lebih sangar malah

This is a very good article .. Thank you .. have a great day!.! happy blogging ...

@Fandi: beneran sob.. itu udah biasa di sana

subhanallah, ada kumpulan foto2nya waktu mayat berjalan g?

@ManiaCMS: cuma itu aja yang saya dapat .. coba googling gambar sob :)

Post a Comment

Dikomen ya pren, asal cuap-cuapnya yang polite, ku reply kok ^_^
Tapi tolong jangan menyertakan link aktif & SPAM ya :) Trimakasih

 
Cute Pencil