Sunday, January 15, 2012

Susi Dalam Dunia Tikus

"Iih...!!! Tikus lagi, tikus lagi!”, jerit Susi saat ia melihat seekor tikus mencuri rotinya didapur. Saat mendengar suara Susi, tikus itu lari menuju tempat persembunyiannya. 
Susi memang sangat benci dengan tikus. Ia sering memukul tikus-tikus yang ia temui di manapun sampai mati. Ia akan marah pada pembantu-pembantunya jika ia melihat satu tikus di rumahnya. 
Suatu hari Susi disuruh ibunya untuk membereskan gudang, tetapi Susi tidak mau. Walaupun kemudian Susi menurut, saat ibunya bilang tidak akan membelikan boneka yang diinginkan Susi jika ia tidak mau membereskan gudang. Dengan cemberut, Susi mengambil kemucing dan sapu. 
Susi memang sangat benci dengan yang namanya gudang. Namun, yah, daripada ia tidak mendapat boneka yang ia inginkan. 
Hampir seluruh gudang bersih, tapi Susi sudah lelah. Saat akan beristirahat, ia mendengar suara tikus. Kemudian Susi, mencari asal suara tikus yang ia benci itu. Rasanya, jika mendengar suara tikus, ingin segera Susi memukul-mukul dan membunuh tikus itu. 
Saat, susi tahu, asal suara tikus itu berasal dari tikus hitam kecil. Ia beraksi dengan sapunya. “Hiiiyaa!!!”. Saat Susi sudah siap dengan sapunya, tikus itu berbalik dan berbicara. Susi sangat kaget dan takut. Tikus itu berpesan sebelum pergi, “Karena kamu sering menyengsarakan masyarakat dunia tikus, kamu akan dihukum!”. 
Tanpa menghiraukan pesan si tikus, Susi berjalan keluar dari gudang. Tetapi tiba-tiba ia mulai menyusut, mengecil, sekecil tikus, tubuhnyapun berubah menjadi tikus hitam. “Aaaa..!!!”, jeritnya, tetapi ia tidak bisa berbicara, hanya suara “ciiit” yang dapat ia katakan. Ia sangat sedih. 
Susi mendengar banyak sekali suara tikus. Ia sangat senang karena mungkin ia bisa mendapat teman. Ia mengintip melihat kumpulan tikus-tikus bau yang sedang memperhatikan sesuatu. Ternyata tikus-tikus itu sedang memperhatikan sang raja tikus. Anehnya ia dapat mengerti bahasa tikus, iapun dapat berbicara dalam bahasa tikus. 
Sang raja tikus memerintahkan ini dan itu. Karena menurut Susi sulit, iapun tidak berminat untuk bekerja. Ia hanya memperhatikan tikus lainnya bekerja keras. Ada yang membuat lubang perlindungan, ada yang mencuri makanan untuk persediaan musim dingin, dan sebagainya. Tetapi sang raja melihat Susi tidak bekerja. “Hei kamu, kenapa kamu tidak bekerja? Semua tikus harus bekerja di bawah perintahku!” bentak sang raja tikus. Susipun berkata, bahwa ia adalah manusia yang dihukum menjadi tikus. “Oo, karena kamu manusia, berarti kamu pasti akrab dengan manusia kan? Nah, tugasmu gampang jika begitu. Ambillah benang sweater milik manusia yang digantungkan di atas lemari yang terbuka itu.”, kata sang raja sambil menunjuk swater di dalam lemari. “Lho, tetapi jika aku tertangkap manusia, aku akan dibunuh.” tolak Susi. “Lho, katamu kamu manusia, pastilah kamu kenal dari salah satu manusia di luar itu kan?”. Susi tidak bisa menolak.
Susi akhirnya dengan berat hati menuju keluar gudang. Susi berlari menuju lemari. Ia tahu sweaternya dulu waktu jadi manusia itu sudah sedikit sobek. Maka ia mencari sobekan dan menarik benang yang terurai. Tetapi sialnya Susi terjerat benang yang telah ia tarik panjang itu. Apalagi pembantu Susi datang melihat Susi sebagai tikus menarik-narik benang sweater. 
“Aduh, kok bisa ada tikus di sini, untung tidak ada non Susi, kalau ada sudah kena marah saya!”
Susi merenung atas perkataan pembantunya itu. Tetapi tidak ada waktu, pembantunya itu telah mengambil sapu untuk siap memukulnya. 
“Aaaaaaa......!!!!!!!!” jerit Susi sambil menutup mata.
“Susi, Susi, bangun Susi,” terdengar suara lembut mama membangunkan Susi dari tidurnya. “Ah...leganya, ternyata hanya mimpi”, gumam Susi. “Kenapa kamu malah tidur di sini Susi, mau ikut belanja apa tidak? Kamu juga ingin boneka kan? Ayo, segera mandi kemudian kita berangkat”, kata mama dengan lembut. 
Dengan gembira Susi berangkat untuk mandi. Tetapi Susi melihat pintu lemari terbuka dan di situ tergantung sweater miliknya. Ia kaget melihat benang yang terulur. Susi ingat saat ia menjadi tikus dalam mimpinya, mengulur-ulur benang sweater. “Ah, masa...”, pikir Susi. Tapi ia menjadi mendapat pelajaran. Ia tidak akan memukul-mukul tikus jika tikus itu tidak mengganggu.

Reactions:

0 comments:

Post a Comment

Dikomen ya pren, asal cuap-cuapnya yang polite, ku reply kok ^_^
Tapi tolong jangan menyertakan link aktif & SPAM ya :) Trimakasih

 
Cute Pencil